MATRUPI - (BAB I - Pertemuan)

Thursday, October 31, 2019


Diatas ranjang Matrupi tergeletak. Tangannya tersambung dengan cairan berwarna bening, infus. Disebalahnya wanita paruh baya duduk memandangi wajah Matrupi yang berkeriput. Dari sudut matanya terlihat buliran air yang sedikit lagi menetes.

Tangan Matrupi bergerak berlahan, menyentuh tangan wanita paruh baya itu. Sambil berbisik Matrupi berkata, "Aku tidak papa Bu." Wanita paruh baya itu terisak, "Tidak papa bagaimana, kamu itu sakit Matrupi, dokter sebentar lagi datang". Dengan sedikit tersenyum Matrupi menjawabnya, "Terimakasih Bu."



Wanita paruh baya itu nenek ku, seorang Janda pensiunan Mayor Jendral. Keluarga kami cukup terpandang dan cukup makmur. Bukannya mau sombong tapi memang begitu adanya. Bahkan untuk urusan rumah tangga Nenek mempercayakannya kepada 3 orang asisten rumah tangga. Itu belum termasuk tukang kebun dan sopir. Kalau ditotal pada saat jaya-jayanya, nenek punya 6 orang yang bekerja dirumah.

Seperti kata pepatah, setiap warna pasti akan memudar, begitu juga kehidupan. Sejak kakek meninggal, praktis kehidupan Nenek sedikit terguncang, hanya mengandalkan pensiunan dan pemberian anak-anak nya. Meskipun begitu, pudarnya kehidupan Nenek masih tetap lebih baik, setidaknya bila dibandingkan kehidupan Matrupi, 'rewang' Nenek.

Hal yang selalu terngiang dibenak ku ketika mendengar nama Matrupi adalah nasehat dari Mama, "Kalau mau belajar Ikhlas, belajarlah dari Mbok Matrupi. Beliau orang paling Ikhlas." Ya, sedari kecil aku selalu dicekoki cerita hidup Mbok Matrupi dengan segala kesederhanaan dan keikhlasannya. Sesekali mama juga bercerita mengenai kegagahan Kakek dalam menumpas G30S.

Aku sendiri tidak begitu mengenal Kakek. Beliau meninggal saat aku berusia 6 tahun. Begitu pula dengan Nenek, aku juga tidak begitu dekat dengan beliau. Kebetulan kami tinggal berbeda Kota. Beliau tinggal di Jogja sedangkan aku tinggal di Kota kecil Cilacap, karena memang Ayah ditugaskan bekerja di Kota ini sebagai salah satu karyawan perusahaan Migas. Mama bekerja sebagai dokter di RS. Umum, praktis sebagian besar waktuku dihabiskan dengan 'rewang' yaitu Mbok Matrupi.

Mbok Matrupi sebenarnya adalah rewang andalan Nenek yang diperbantukan untuk mengurus keperluan keluarga kecil kami di tanah rantau. Ya itu karena Mama anak perempuan satu-satunya dari kakek Nenek, jadi mendapat semacam  perhatian khusus dari orang tuanya. Oh iya selain mama, kakek nenak juga mempunyai saudara kandung, Pakde Aryo dan Pakde Bimo. Pakde Aryo mengikuti jejak Kakek menjadi Perwira TNI dan sekarang bertugas di Semarang. Pakde Bimo seorang yang unik, meskipun mengenyam pendidikan tinggi sebagai insinyur bangunan, beliau lebih suka bekerja menjual barang-barang eksentrik. Mama sering mengeluhkan kelakuan Pakde Bimo. Terakhir Pakde Bimo pergi ke Papua untuk mencari keramik mangkuk besar peninggalan kerajaan Lau-Tse dari Tiongkok. Katanya kalau sampai ketemu dan deal harga, bisa dapat keuntungan hingga 1 Miliar Rupiah. Ya ongkos jalannya pinjam dari Mama, itulah yang kadang buat Mama dongkol.

Bibit ke-eksentrikan Pakde Bimo sebenarnya sudah muncul dari SMA. Sikapnya yang selengean, seenaknya sendiri, membuatnya acapkali berbeda pendapat dengan Kakek yang keras dan disiplin. Sering Pakde Harus tidur di terminal bus atau stasiun kereta karena kabur dari rumah, istilah Mama 'seperti pengungsi korban perang'.

Pakde Bimo mengenyam bangku SMA di Cilacap. Kebetulan Kakek saat itu bertugas di Kodim Cilacap jadi praktis sebenarnya 'akar' Keluarga kami juga pernah menetap di kota ini. Di SMA ini lah Pakde Bimo mengenal kawannya yang bernama Suparno, dimana semua ini bermulai.

Saat itu bulan Juli. Seperti tahun-tahun sebelumnya, diadakan seleksi Paskibra menyambut peristiwa penting, hari kemerdekaan Republik Indonesia. Saat itu hanya SMA Kebonrejo Cilacap yang memiliki hak prerogatif mengirim Paskibra untuk nelakukan pengibaran bendera di Kabupaten. Hampir semua siswa kelas 1 di sekolah mengikutinya. Tidak terkecuali Pakde Bimo.

Setiap sore calon Paskibra melakukan pelatihan baris-berbaris. Hampir  separuh anak kelas 1 mengikutinya, maklum ini peristiwa sekali setahun, toh juga lumayan bergengsi. Akhirnya tiba saatnya pengumuman siswa-siswa yang berhak menjadi PASKIBRA. Nama Bimo Saptoaji masuk kedalam 45 orang PASKIBRA kabupaten Cilacap.

Hari-hari selanjutnya lebih berat, selama 3 minggu setelah lolos seleksi, mereka digembleng dengan latihan-latihan. Latihannya bukan hanya terkait teknik baris berbaris, namun juga fisik dan mental. Bahkan tidak jarang, pelatih yang didatangkan dari Kodim membentak dan memaki calon Paskibra ini. "Supaya lebih kuat dan tidak semaput saat hari H", begitu alasannya kira-kira.

Mendekati hari H, calon Paskibra di kumpulkan di Aula besar belakang sekolah. Setelah diabsen satu-satu, Pak Guru Olahraga yang menjadi penanggung jawab kegiatan Paskib memberikan pengumuman mengenai Seragam yang wajib dikenakan saat acara. "Besok kita mengenakan seragam putih-putih, dengan kopiah, dan sepatu pantofel hitam ya", ucap Pak Guru. "Nah semua itu disediakan oleh sekolah, kalian tinggal mengumpulkan duitnya saja ke Sugeng itu" kata pak guru sembari menunjuk Guru Olahraga satunya bernama Sugeng. "Selain seragam, duit itu juga kita kelola untuk akomadasi selama latihan kemarin, duit dari Kabupaten terlalu kecil,... setuju ya kita kumpulkan duit???"

Semua diam bergeming. Dalam sebuah negara demokrasi, diam dan golput diartikan ikut arah kebijakan. Artinya Pakde Bimo dan para calon Paskib ini setuju.

Hari ini tanggal 15 Agustus. Ada pemandangan baru di tim Paskibra. Seorang pemuda bertubuh tambun, anak seorang Mantri di Kota sekaligus ketua Komite sekolah menjadi bagian dari tim. Sebelumnya anak ini gagal seleksi masuk tim. Mata Pakde Bimo melihat sekeliling, ada yang ganjil, ternyata jumlah tim nya tetap. Dilihatnya lagi sekeliling, oh ternyata Suparno salah satu anggota tim duduk dipinggir lapangan, tidak ikut baris berbaris.

Matahari menyingsing tepat di atas anggota Paskibra. Saatnya istirahat siang sampai pukul satu. Saat istirahat Pakde Bimo mendekat ke Suparno di pinggir lapangan, mencari tahu kenapa dia tidak ikut latihan. Agak berbeda dengan Pakde yang bersih, tegap dengan tinggi 180 cm, Suparno bertubuh kurus berbadan gelap, namun terlihat lincah dan kuat, hampir semua kesan susah ada dipenampilannya.

"No, kenapa duduk di pinggir lapangan?" tanya Pakde

"Ah, penak disini adem, disana panas." jawab suparno sambil melempar senyum.

"Itu… Jarwo Lemu buat apa bergabung ya? Kontras sekali… lagi pula kita sudah ber 45" kata Pakde sembari menirukan cara jalan Jarwo yang seperti pinguin.

"Peng-imut pandangan Mo." kelakar Suparno.

Obrolan mereka berdua berlanjut hingga jam istirahat usai. Sebelum melanjutkan latihan, Pakde memutuskan untuk ke kamar kecil.

Dari luar bilik kencing terdengan suara obrolan beberapa orang yang juga anggota Paskibra. Sama seperti Pakde, mereka juga menanyakan kehadiran Jarwo. Kabarnya Ayah jarwo menyumbang dana kepada sekolah untuk kelangsungan program paskibra ini, dengan syarat Jarwo diikutkan tim paskib. "Nah, kebetulan Suparno belum bisa bayar duit akomodasi kemarin.", celetuk salah satu orang. "Jadilah Suparno dicadangkan dan digantikan Jarwo Lemu"

Sebenarnya dalam hati, Pakde mengendus hal yang tidak beres terkait keikutsertaan Jarwo, namun dengan tanggapan Suparno yang 'baik-baik' saja, jadi mengaburkan kecurigaan Pakde. Inilah pertama kali Pakde manaruh simpati kepada Suparno. Sebenarnya Suparno tahu alasan mengapa dia dicadangkan dari tim dan digantikan Jarwo. Namun dengan besar hati, bahkan dalam kondisi berdua saja dengan Pakde, Suparno tidak menjelekan pihak-pihak yang memang sudah dengan sengaja menzolimi Suparno. Hati pakde mencelos. Lagi dan lagi manusia bernama Jarwo itu mendapatkan keistimewaan. Pakde masih ingat betul kegiatan Masa Orientasi saat pertama masuk SMA bulan Mei lalu. Saat dirinya harus berlari berkeliling lapangan karena ulah Jarwo Lemu. "ah, malas rasa nya ada Jarwo di ingatanku", batin Pakde tak mau mengingatnya.

Tujuh belas agustus tahun empat lima...
Itulah hari kemerdekaan kita...
Hari merdeka nusa dan bangsa...
Hari lahirnya bangsa Indonesia… Merdeka...

Lagu '17 Belas Agustus Tahun Empat Lima' sudah sedari subuh diputar di radio-radio. Saat itu pukul 6 pagi, Kakek sudah bersiap berangkat mengikuti upacara di alun-alun kabupaten sekaligus mengantar anaknya, Bimo sebagai Paskibra. Nenek dan Mama ikut sebagai tamu undangan, rasa bangga menyelimuti keluarga ini. Jadilah mereka berempat mengendari Mobil Timor berwarna coklat tua disopiri Pak Badrun menuju alun-alun kabupaten.

Waktu yang ditunggu akhirnya datang. 45 orang anggota tim Paskibra bersiap, berbaris rapi, dan saling meluruskan. Semua bermuka tegang namun penuh keyakinan. Berbaju putih-putih, dengan kopiah berwarna hitam sama seperti foto populer Bapak Pendiri Bangsa, Bung Karno dan Bung Hatta. Pak Guru olahraga dan seorang tentara mengarahkan anak didiknya supaya tertib.

"Panji Merah Putih Memasuki lapangan Upacara," protokoler mulai memanggil tim untuk masuk menaikan Sang Saka Merah Putih. Suasana khidmat dan penuh kebanggaan bergemuruh didalam hati para peserta upacara, baik yang ada di tribun atau yang berdiri dalam barisan. 45 pemuda pemudi gagah dengan langkah tegap berjalan mengiringi bendera kebanggaan negara.

Suparno berada diatas tribun. Sebagai seorang pemain pengganti tanggungjawabnya adalah menunggu hingga ada seseorang yang berhalangan hadir atau sakit mendadak. Namun sepertinya semua berjalan lancar, kehadirannya tidak akan menggantikan siapapun dan hanya menjadi penonton di tribun. Dia melihat dari kejauhan, teman-temannya mulai memasuki lapangan upacara. Mereka berbaris mengenakan pakaian serba putih berbaris rapih. Dari lokasinya Suparno tidak bisa melihat dengan jelas muka teman-temannya, semua terlihat sama. "Seandainya aku bisa ada di dalam barisan gagah itu."

"Hushh...", seseorang menepuk punggung Suparno. Membangunkannya dari lamunan dan banyak kekecewaan.

"lha.. kok kamu disini Mo?" kata Suparno kaget melihat keberadaan Bimo disampingnya, di tribun penonton.

BERSAMBUNG...

You Might Also Like

19 komentar

  1. masnya asli cilacap ya mas. saya juga, salam kenal

    ReplyDelete
  2. Mas ceritanya bagus mas....


    Bikin lagi dong...



    Btw salam kenal suhu, udah lama ya suhu ngeblog?

    ReplyDelete
  3. Sungguh luar biasa, rangkain katanya sangat tertatata dengan apik dan runut.
    Ini kayaknya tepat di watpad, siapa tahu nanti ada yang melirik dan menjadi sebuah buku.
    ayo lanjutkan dan terus berkarya

    ReplyDelete
  4. BAB 1 sebuah kisah novel yang makjleb tentu untuk lanjutannya makin maknyes nih kisahnya euy

    ReplyDelete
  5. Lah Pakde Bimo kok ga ngikut baris? apakah suparno bakal masuk ke lapangan?

    ReplyDelete
  6. wah seru ni ceritanya, mau baca kelanjutannya mas, ayo mas dilanjutin ya, semangat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah ada update nya pak... loncat dulu ke Bab 3 ya

      Delete
  7. boleh dikembangkan lagi penceritaan hingga jadi sebuah buku lengkap

    ReplyDelete
  8. This is a fantastic story...would be a great book to read!
    Many thanks for sharing 😊😊

    ReplyDelete

Salam kenal gan... Silahkan berkomentar



“Orang boleh pandai setinggi langit,
tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Pramoedya Ananta Toer