­
Novel

MATRUPI (BAB 8 - CATATAN HARIAN COKRO II )

--- diambil dari catatan harian Cokro Hari ini tanggal 20 Februari 1966, dada menjadi sesak. Belum pernah dalam hidup merasakan kebingungan seperti ini. Tiba-tiba dikantor datang Bude Saminem, dia adalah sepupu dari Bapak. Sangat jarang, bahkan belum pernah ada keluarga datang ke kantor, biasanya mereka langsung datang ke rumah. Belum 5 menit kami bertemu, beliau sudah menangis. Waduh, bingung saya dibuatnya. Saya panggil...

Continue Reading

Artikel Menarik

Sedikit Progres Tentang Rumah Petak

Jadi hari minggu lalu saya pulang ke Cilacap, selain untuk menengok istri dan Mahreen - anak saya, juga untuk urusan bisnis. Ya, apalagi kalau bukan menengok tanah. Pada postingan sebelumlumnya, saya pernah bercerita tentang rencana pembangunan Kontrakan. Nah, pada kunjungan kemarin, saya melakukan pengukuran ulang tanah. Melihat batas patok dan lebih dalam memantapkan pasar yang akan dibidik. Setelah dihitung lebih lanjut, memang benar...

Continue Reading

Novel

MATRUPI (BAB 6 - CATATAN HARIAN COKRO)

----- Tulisan ini diambil dari Catatan Harian Bapak Cokro Hari ini tanggal 5 Januari 1966, tepat satu tahun anakku yang kedua dilahirkan. Bulan lalu istriku sudah merencakan untuk mengadakan pesta kecil-kecilan dengan mengundang anak-anak kerabat dekat. Sayang seribu sayang aku tidak bisa menemaninya untuk merayakan ulang tahun.  Semoga Bimo bisa memahami kalau Bapak nya ini sedang menjalankan tugas negara. Kalaupun Bimo memahami, sebenarnya...

Continue Reading

Novel

MATRUPI - (BAB 5 - LANGKAH PERTAMA)

Hati matrupi hancur, belum pernah dia mendengar adanya kekerasan atau sekedar cekcok di Kebonrejo. Kalaupun ada, itu hanyalah cerita masa lalu saat perang kemerdekaan. Itupun di desa sebelah. Selain itu, Kebonrejo adalah wilayah yang damai. Warga Kebonrejo percaya mereka adalah keturunan dari priyayi yang memilih menyendiri dan menghindari hiruk-pikuknya politik keraton. Mungkin karena itulah warganya sangat memegang prinsip 'Nerimo ing pandum'. Menerima apa...

Continue Reading

Novel

MATRUPI - (BAB 4 - Jumat, 17 Desember 1965)

Hidup pada dasarnya hanyalah sebuah daur tebar dan tuai. Apa yang yang kita perbuat dihari ini akan kita dapat ganjarannya dihari esok, begitulah sekiranya pemahaman Setra dalam hidup. Sederhana dan sangat mendalam seperti proses bertani, bibit yang baik akan mengahasilkan panen yang baik pula. "Kok, jadi kepikiran si penyuluh dari Barisan Tani itu. Apakabar ya dia ?" kata Matrupi kepada suaminya. Setra selalu...

Continue Reading

Artikel Menarik

Rencana Membangun Rumah Petak

Awal tahun 2017 lalu, saya mendapatkan informasi dari tetangga yang menyebutkan bahwa Raja Salman akan berinvestasi di Kota Cilacap melalui Saudi Aramco salah satu perusahaan BUMN asal Arab Saudi. Awalnya saya anggap berita itu hanya hisapan jempol belaka, sampai kemudian dipertengahan tahun 2017 santer diberitakan Investasi besar-besaran Arab Saudi pasca kunjungan Raja Salman ke Indonesia bulan Maret 2017. Benar saja, Saudi Aramco berminat...

Continue Reading

Novel

MATRUPI - (BAB 3 - SETRA WIJAYA)

Senja sebentar lagi berakhir digantikan pekatnya malam di dusun Kebonrejo. Remang-remang lampu sentir mulai menyala menghiasi rumah-rumah penduduk. Hiruk pikuk jalan makadam yang berdebu disiang hari sudah tidak tampak. Sesekali petani lewat membawa sepikul alat tanam, saling menundukan kepala untuk menyapa di temaramnya jalan. Malam ini agak spesial bagi warga dusun, Ki Brata pulang kampung setelah 5 tahun merantau ke Kota. Beranda rumahnya...

Continue Reading



“Orang boleh pandai setinggi langit,
tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Pramoedya Ananta Toer