Sewaktu Saya Fakum

Tuesday, October 28, 2014

    Sampai dimana perbincangan kita? Setelah rehat sejak 17 Agustus lalu, akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke dunia web(?). Belakangan saya berpindah dari alamat ini ke alamat sukamoco.blogpot.com. Kenapa?? Saya pikir seharusnya nama blog ini sudah berganti sejak lama karena konten dan alamatnya tidak sesuai. Dulu saya suka ‘berburu alien dan UFO’ atau sesuatu yang berbau konspirasi (freak abis), kalau sekarang saya lebih suka berburu wanita. Hehe... Testoteron kadang terlalu kejam mengendalikan hidup lelaki... 

     Setelah 2 bulan berada di sukamoco, ternyata saya baru sadar, alamat itu tidak terhubung dengan blog following maupun blog follower saya. Mereka terhubung dengan pemburualien bukan dengan sukamoco. Sudah cari sana-sini solusi dari permasalahnannya, tapi tetap tidak bisa teratasi. Jadi, karena alasan itu saya kembali ke alamat lama saya di pemburualien. Lagipula, hubungan saya dengan pemburualien sudah sangat 'akrab'... 

      Oh iya, mumpung masih dalam suasana Hari Blogger Nasional tanggal 27 Oktober, saya Masamar mengucapkan selamat HBN yo... sekaligus ingin menandasakan dengan resmi bahwa saya pulang ke blog iniii...!!!   

Pak Alex dan buku barunya...
Saya sudah pernah bilang Alex Scarrow memang paling hebat dalam membuat imajenasi saya melayang. Lebaran lalu saya sempat mampir ke gramed daerah Jogjakarta. Disalah satu rak-nya, saya menemukan buku ketiga dari lanjutan kisah Time Riders karya Pak Alex. Judulnya Time Riders-The Doomsday Code. Dengan sisa-sisa uang lebaran akhirnya kebeli juga...
Tampilan kover buku Pak Alex
Kurang lebih satu minggu buku nya Pak Alex tergeletak begitu aja di meja. Mau gimana lagi, bulan agustus-september kegiatan lumayan padet. Cari tempat magang! Setelah saya baca, ceritanya bagus juga seperti buku sebelumnya. Bahkan lebih kompleks menurut saya. Isinya apa? Baca sendiri dongse... hehe. Tulisan saya tentang buku Pak Alex yang lain >>> Time Riders

Buku Pak Ahmad dan hidup saya...
Sekitar tahun 2006, saya pernah membaca buku Ahmad Tohari, judulnya ‘orang-orang proyek’. Setelah dapat tempat magang, otomatis saya juga menjadi bagian dari orang-orang proyek. Deskripsi Pak Ahmad memang cukup jelas, ada orang proyek yang bajingan dan ada yang lebih bajingan. Itu kata Pak Ahmad lho ya... Saya harap saya cukup menjadi orang yang bajingan saja. hehe... 

Menjadi bajingan yang dikelilingan manusia yang lebih bajingan itu tidak mudah. Butuh kesadaran untuk tidak meningkatkan level menjadi lebih bajingan. Tapi jujur, saya menikmati proses menjadi bajingan diantara manusia yang lebih bajingan. Soalnya mereka baik sama saya!

begini kovernya

Ingatan di tahun 2006 itu, mengantarkan saya untuk menggali informasi tentang karya lain Pak Ahmad. Terpilihlah buku berjudul ‘Bekisar Merah’. Bukunya bagus. Bahkan teramat bagus menurut saya. Mungkin karena penggambaran daerahnya mirip dengan kampung saya tahun 90 an. Saya jadi ingat hangatnya pagar perdu antar rumah dan jalan yang tidak rata. Terus Bekisar Merah isinya apa? Baca sendiri dongse... hehe




Suara di awal musim hujan...
Belakangan walaupun tidak terlalu intens, saya coba menghubungi beberapa teman lama semasa sekolah. Tujuannya simpel, mencoba pengalaman baru, yaitu menggubah beberapa puisi sehingga bisa dinyanyikan. Ini cuma iseng, tapi cukup lumayan menghibur. Lucu dengerin suara sendiri yang ancur! 

Kami, khususnya saya banyak mendengarkan lagu-lagu yang sesuai dengan ‘rasa’ kami. Seperti Katje Piering, Banda Neira, Payung Teduh, Pandai Besi, ERK, Senandung Sore, Sore, Frau, Float, Tigapagi, Dialog Dini Hari, Angsa dan Serigala, Teman Sebangku dll.

sudah segitu...

You Might Also Like

2 komentar

  1. o iya ternyata rumah lama ya..
    eh jomblo dari lahir mar ?

    ReplyDelete
  2. yoi... rumah lama yg direnovasi dikit...

    ngakunya gitu tun... tergantung perspektif dan kepercayaan mu... haha...

    ReplyDelete

Salam kenal gan... Silahkan berkomentar



“Orang boleh pandai setinggi langit,
tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Pramoedya Ananta Toer