Pengalaman Membangun Kontrakan
Tuesday, September 24, 2019
Mungkin bukan hanya Instagram saya yang dipenuhi dengan quotes terkait kata-kata bijak, tips and trick bisnis, strategi investasi dan lain hal yang berkaitan dengan melek finansial. Kebanyakan dari quotes itu bersumber dari buku Robert T. Kiyosaki, Garry Vee, ataupun Anthony Robbin. Memang saya akui quotes yang diambil merupakan kata-kata baik yang motivasional, hanya saja kita perlu menyaring pengertian sebuah quotes bukan saja secara tekstual namun juga secara kontekstual.
Pernah saya melihat komentar di Instagram yang isinya merendahkan status karyawan karena berada di quadran kiri dan memuja-muja entrepreneur secara berlebihan. Golongan netizen ini sepertinya berisi orang-orang yang baru membaca satu atau dua buku bisnis, dan mendefinisikan makna quadran Robert T. Kiyosaki secara tekstual.
Siapa sih yang mau bekerja untuk memperkaya perusahaan atau bisnis orang lain? Tapi dalam fase awal merintis kehidupan finansial yang baik, seseorang butuh modal, bukan cuma perkara uang tapi juga pengalaman. Mengutip kata-kata Nadiem Gojek disebuah seminar, bahwa 80% Founder Unicorn yang mampu bersaing dan bertahan, pernah mencicipi fase menjadi karyawan. Bahkan Nadiem sendiri pun pernah bekerja menjadi karyawan.
Kembali ke pertengahan tahun 2018, saya masuk kedalam golongan yang memuja-muja entrepreneur. Maklum referensi masi minim dan emosi masih labil. Apalagi saat itu playlist Youtube saya tidak jauh dari lagu Fourtwnty - Zona Nyaman. Behhh… 'Keluarlah dari Zona nyaman' sebuah kata yang menghipnosis.
Bekerja jauh dari keluarga dan keinginan berwirausaha, cukup menjadi tumbal untuk murtad dari status karyawan. Saya mengajak istri untuk diskusi terkait hal ini. Untungnya beliau masih waras dan menasehati saya untuk berfikir logis. Wajar, karena saya sudah menjadi karyawan tetap BUMN Karya dengan jenjang karir yang jelas.
Akhirnya saya putuskan untuk mencoba mencari bisnis yang sekiranya bisa tetap saya lakukan meskipun bekerja sebagai karyawan. Mulai dari franchise tahu goreng, kebab, mie ayam dan masih banyak lainnya sudah saya hitung untung ruginya. Sampai di bulan Oktober 2018, saya masih belum menemukan yang pas.
November 2018, saya pulang ke Cilacap. Kebetulan pada saat itu orang tua sedang asik bercerita tentang banyaknya keluarga muda yang mencari rumah kontrakan. Masalahnya di lingkungan kami (bahkan di Kota Cilacap) jarang terdapat rumah kontrakan, rata-rata berupa kosan. Kalaupun ada rumah kontrakan, jumlah kamarnya terlalu banyak dan ukurannya terlalu besar. Saya melihat ini sebagai sebuah kesempatan.
Untung bagi saya, orang tua memiliki lahan di belakang rumah yang sangat cocok dijadikan kontrakan. Saya meminta ijin untuk mendirikan kontrakan di lahan itu.
Saya dan istri mendesign kontrakan ini dengan ukuran 5 x 5 m. Didalamnya terdapat 1 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu dan sudah dilengkapi dapur. Dengan design ini seharusnya sudah dapat memenuhi kebutuhan dari keluarga muda.
Setelah dihitung, ternyata per meter persegi dibutuhkan dana sekitar 2,5 juta. Artinya untuk membangunnya dibutuhkan uang 50 juta. Sungguh uang yang banyak untuk kami. Untungnya kami mempunyai cadangan emas, namun tetap harus menabung untuk menggenapi ke angka 50 juta.
Pembangunan akhirnya bisa terealisasi bualan Februari 2019 dan selesai Maret 2019. Pada saat dimulai pekerjaan pondasi, tiba-tiba ada orang yang berniat menyewa kontrakan kami. Akhirnya tersewalah kontrakan tersebut dengan harga 750 ribu rupiah per bulan.
Sebenarnya untuk project pertama ini saya tidak menitikberatkan pada keuntungan, tapi lebih kepada tes pasar. Ternyata kebutuhan akan kontrakan di lingkungan saya memang sangat tinggi dan saya berniat memaksimalkan hal ini.
Pengalaman membuka bisnis kontrakan membuka cakrawala saya mengenai definisi karyawan. Bahwa menjadi karyawan adalah sebuah berkah besar. Menjadi karyawan artinya kita memiliki jaring pengaman dimana apabila kita gagal menjalankan bisnis, kita masih memiliki penghasilan yang didapat sebagai karyawan.
Pernah saya melihat komentar di Instagram yang isinya merendahkan status karyawan karena berada di quadran kiri dan memuja-muja entrepreneur secara berlebihan. Golongan netizen ini sepertinya berisi orang-orang yang baru membaca satu atau dua buku bisnis, dan mendefinisikan makna quadran Robert T. Kiyosaki secara tekstual.
![]() |
salah satu post di instagram yang menurut saya 'provokatif' |
Kembali ke pertengahan tahun 2018, saya masuk kedalam golongan yang memuja-muja entrepreneur. Maklum referensi masi minim dan emosi masih labil. Apalagi saat itu playlist Youtube saya tidak jauh dari lagu Fourtwnty - Zona Nyaman. Behhh… 'Keluarlah dari Zona nyaman' sebuah kata yang menghipnosis.
![]() |
Mringis yang menghipnosis |
Akhirnya saya putuskan untuk mencoba mencari bisnis yang sekiranya bisa tetap saya lakukan meskipun bekerja sebagai karyawan. Mulai dari franchise tahu goreng, kebab, mie ayam dan masih banyak lainnya sudah saya hitung untung ruginya. Sampai di bulan Oktober 2018, saya masih belum menemukan yang pas.
November 2018, saya pulang ke Cilacap. Kebetulan pada saat itu orang tua sedang asik bercerita tentang banyaknya keluarga muda yang mencari rumah kontrakan. Masalahnya di lingkungan kami (bahkan di Kota Cilacap) jarang terdapat rumah kontrakan, rata-rata berupa kosan. Kalaupun ada rumah kontrakan, jumlah kamarnya terlalu banyak dan ukurannya terlalu besar. Saya melihat ini sebagai sebuah kesempatan.
Untung bagi saya, orang tua memiliki lahan di belakang rumah yang sangat cocok dijadikan kontrakan. Saya meminta ijin untuk mendirikan kontrakan di lahan itu.
Saya dan istri mendesign kontrakan ini dengan ukuran 5 x 5 m. Didalamnya terdapat 1 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu dan sudah dilengkapi dapur. Dengan design ini seharusnya sudah dapat memenuhi kebutuhan dari keluarga muda.
![]() |
Denah hasil coretan Istri |
Pembangunan akhirnya bisa terealisasi bualan Februari 2019 dan selesai Maret 2019. Pada saat dimulai pekerjaan pondasi, tiba-tiba ada orang yang berniat menyewa kontrakan kami. Akhirnya tersewalah kontrakan tersebut dengan harga 750 ribu rupiah per bulan.
![]() |
Mulai dengan pondasi |
![]() |
cek bagian dalam selama konstruksi |
![]() |
Bagian depan selama konstruksi, terlihat orang tua saya didepan |
![]() |
Sudah hampir jadi |
![]() |
Hasil jadi, sederhana tapi mempesona |
Sebenarnya untuk project pertama ini saya tidak menitikberatkan pada keuntungan, tapi lebih kepada tes pasar. Ternyata kebutuhan akan kontrakan di lingkungan saya memang sangat tinggi dan saya berniat memaksimalkan hal ini.
Pengalaman membuka bisnis kontrakan membuka cakrawala saya mengenai definisi karyawan. Bahwa menjadi karyawan adalah sebuah berkah besar. Menjadi karyawan artinya kita memiliki jaring pengaman dimana apabila kita gagal menjalankan bisnis, kita masih memiliki penghasilan yang didapat sebagai karyawan.
10 komentar
Luar biasa usahanya, tetap mencoba terus berganti ganti usaha yang pas, energinya pasti besar
ReplyDelete@Bondan : terimakasih tanggapannya pak... doakan ya...
ReplyDeleteNaluri bisnisnya hebat sekali mas, bisa memanfaatkan peluang yg ada. Ternyata di Cilacap dicari sekali ya rumah kontrakan yg seperti ini. Sukses selalu mas
ReplyDeleteMantap deh, insting bisnisnya jalan ya. Moga makin barokah deh
ReplyDeletekeren banget, karyawan itu insha Allah berkah, sama aja kok dengan pengusaha.
ReplyDeleteAsal kita bekerja dengan baik.
Semoga berkah usahanya ya :)
Inspiratif. Memang harus berani melawan demi tercapainya bebas finansial bukan bablas finansial. Oh ya, saya Follower baru blog ini. Thx
ReplyDeleteSungguh luar biasa, sebenarnya itu sudah tergolong keluar dari zona aman.
ReplyDeleteKehidupan ini sebuah proses dan setiap orang punya peran masing-masing.
Ya, ada yang menjadi peran karyawan, ada yang enterprenaur, maupun CEO. Saling menikmati peran tanpa merendahkan. Dan tidak merasa perannya itu lebih penting. Sekali lagi, semua saling melengkapi.
Tidak selamanya pula menjadi karyawan, bisa jadi suatau saan kena phk, untuk menyiasitnya adalah ya itu punya usaha atau bisnis lainnya, semisal punya kontrakan.
ini adalah sebuah cita-cita dari jaman pas jadi anak kosan, semoga nanti juga bisa terwujud
ReplyDeleteNyaman ga Nyaman.
ReplyDeleteMenjadi karyawan atau entrepreneur sih sama saja.
Makanya saat suami mau resign bilang usaha ga tak bolehin, karena dia bukan type tekun dan sabar menemui masalah. Terbukti beberapa kali test, modal lenyap. Akhirnya saya yang mutusin, untuk menjalani entrepreneur dan resign dari pekerjaan.
sukses bisnisnya mas
ReplyDeleteSalam kenal gan... Silahkan berkomentar