Beberapa hari yang lalu, seorang teman menelpon dan menanyakan keberadaan saya. Ternyata dia salah membeli tiket pesawat. Seharusnya melakukan perjalanan dari Halim Perdana Kusuma (HLP) ke Adisucipto (JOG), ternyata nyasar ke Yogyakarta International Airport (YIA). Memang bandara baru di Yogyakarta ini belum terlalu dikenal publik, sehingga beberapa orang yang terburu-buru dalam membeli tiket ke Adisucipto Yogyakarta malah membeli tiket ke YIA.
'Ah posisi Bandaranya terlalu jauh dari Kota Yogyakarta', umpat teman saya saat kami bertemu. Saya mengernyitkan mata, sepertinya umpatan seperti ini banyak diterima YIA. Ingatan saya kembali saat pertama kali menginjakan kaki di Kulon Progo sebagai pegawai proyek Yogyakarta International Airport.
Saat itu, September 2017, aliansi warga yang menamakan diri PWPP.KP (Persatuan Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo) masih mendiami wilayah yang digadang-gadang menjadi bandara. Jadi sepanjang jalan desa, banyak terpampang poster dan spanduk perlawanan warga yang menolak pembangunan bandara. Poster dan spanduk yang terpasang berisi kata-kata umpatan dan sumpah serapah pada pihak-pihak yang ingin menyukseskan YIA. Usut punya usut, alasan penolakan warga cenderung disebabkan oleh masalah ekonomi yaitu kekhawatiran akan tergusurnya lapangan kerja sebagai petani serta alasan kepemilikan lahan secara turun temurun.
Mengupayakan pembangunan konstruksi saat lahan masih dalam penolakan warga merupakan kesulitan utama kami sebagai kontraktor. Pada dasarnya pembebasan lahan merupakan tanggung jawab owner, dalam hal ini Kementrian Perhubungan yang diwakili, Angkasa Pura I, namun sebagai kontraktor, kami juga berupaya secara persuasif agar pekerjaan pembangunan dapat maksimal. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan pendekatan kepihak-pihak yang dirasa memiliki peran di lingkungan warga penolak dan mempekerjakannya di proyek.
Kekhawatiran warga akan tergusurnya lapangan kerja sebagai petani memang benar menjadi kenyataan, namun lapangan kerja yang hilang itu diisi dengan lebih banyak lapangan kerja akibat pembangunan proyek bandara. Sebagian warga dirangkul menjadi pekerja proyek, sebagian lainnya memilih berwiraswasta memanfaatkan ledakan pekerja di lingkungan Bandara, seperti membuka warung makan, membuka jasa loundry, membuka tempat kos, dan masih banyak kesempatan pekerjaan yang tersedia di Kulon Progo selama dan setelah pembangunan YIA ini.
Lebih lanjut, warga yang merelakan lahannya digusur mendapatkan ganti rugi melalui mekanisme Konsinyasi. Konsinyasi adalah mekanisme ganti rugi dengan menitipkan sejumlah uang ke pengadilan. Hal yang membuat saya cukup kaget adalah besaran nominal ganti rugi yang ditawarkan. Nilai tanah per meter persegi melambung hingga 10 kali lipat dari harga awal sebelum ada pembangunan bandara YIA. Jadi banyak warga eks gusuran bandara YIA menjadi miliarder. Beberapa diantaranya menjadi rekanan kami, sebagai supplier bahan dengan modal dari hasil Konsinyasi tadi.
Perlu diakui bahwa sampai sekarang ada sebagian kecil warga yang belum merelakan pembangunan bandara ini, meskipun begitu pembangunan YIA memang perlu dilakukan. Mengutip dari pernyataan Bapak Budi Karya pada kunjungan ke proyek YIA pada Oktober 2017, alasan utama pembangunan YIA adalah masalah Bandara Adisutjipto yang sudah melebihi kapasitas penumpang. Kedua, panjang landasan pacu (runway) bandara di Kabupaten Sleman itu hanya 2.200 meter, sehingga tidak mampu menampung pesawat berbadan lebar (wide body). Selain itu, apron hanya bisa menampung 11 pesawat. Ketiga, bandara tersebut merupakan civil enclave milik TNI Angkatan Udara yang telah dibangun sejak 1938 dan dirancang untuk penerbangan militer. Keempat, pengembangan di Bandara Adisutjipto juga tidak bisa dilakukan karena terhambat keterbatasan lahan dan kendala alam. Terakhir atau kelima, Yogyakarta merupakan kota kunjungan wisata kedua setelah Bali memerlukan bandara yang dapat langsung menangkap lalu lintas penerbangan Internasional.
Pemilihan Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo sebagai lokasi YIA juga bukan tanpa alasan. Selain terkait masalah teknis, lokasi ini juga dinilai strategis bukan hanya sebagai pintu gerbang udara ke Yogyakarta, namun juga ke tujuan wisata utama di Jawa Tengah, yaitu Borobudur. Borobudur dikenal sebagai salah satu daerah prioritas pengembangan wisata nasional. Dengan adanya YIA yang didesain untuk menangkap lalu lintas penerbangan internasional secara langsung dari beberapa negara, diprediksi ada 20 juta penumpang yang melewati YIA setiap tahun dan berpotensi meningkatkan kunjungan ke Borobudur dan berbagai obyek wisata di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Saya terbangun dari lamunan umpatan teman saya. Saya tersenyum sejenak. Tidak dipungkiri memang jarak YIA ke pusat kota Yogyakarta memang cukup memakan waktu. Tapi pernahkah kita berfikir tentang dampak bangkitan yang ditimbulkan akibat pemilihan lokasi YIA ini terhadap Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Purworejo, dan banyak wilayah disekitarnya? Pariwisata bertumbuh, bisnis transportasi bertumbuh, perniagaan bertumbuh, perekonomian berputar bahkan sebelum bandara ini jadi. Saya menjadi saksi bagaimana YIA dalam 2 tahun ini mengubah kehidupan orang disekitarnya menjadi lebih baik. Saya menjadi saksi bagaimana pemerintah membangun Tanah Air melalui Kementrian Perhubungan. Terimaksih Kementrian Perhubungan (ig : @kemenhub151)
'Ah posisi Bandaranya terlalu jauh dari Kota Yogyakarta', umpat teman saya saat kami bertemu. Saya mengernyitkan mata, sepertinya umpatan seperti ini banyak diterima YIA. Ingatan saya kembali saat pertama kali menginjakan kaki di Kulon Progo sebagai pegawai proyek Yogyakarta International Airport.
![]() |
| Salah satu spanduk yang terpasang dilokasi bandara, September 2017 |
Kekhawatiran warga akan tergusurnya lapangan kerja sebagai petani memang benar menjadi kenyataan, namun lapangan kerja yang hilang itu diisi dengan lebih banyak lapangan kerja akibat pembangunan proyek bandara. Sebagian warga dirangkul menjadi pekerja proyek, sebagian lainnya memilih berwiraswasta memanfaatkan ledakan pekerja di lingkungan Bandara, seperti membuka warung makan, membuka jasa loundry, membuka tempat kos, dan masih banyak kesempatan pekerjaan yang tersedia di Kulon Progo selama dan setelah pembangunan YIA ini.
Lebih lanjut, warga yang merelakan lahannya digusur mendapatkan ganti rugi melalui mekanisme Konsinyasi. Konsinyasi adalah mekanisme ganti rugi dengan menitipkan sejumlah uang ke pengadilan. Hal yang membuat saya cukup kaget adalah besaran nominal ganti rugi yang ditawarkan. Nilai tanah per meter persegi melambung hingga 10 kali lipat dari harga awal sebelum ada pembangunan bandara YIA. Jadi banyak warga eks gusuran bandara YIA menjadi miliarder. Beberapa diantaranya menjadi rekanan kami, sebagai supplier bahan dengan modal dari hasil Konsinyasi tadi.
![]() |
| Rapat di lokasi proyek, Oktober 2017. Dihadiri Mentri Perhubungan serta Direksi PT. Angkasa Pura 1 dan PT. PP (Persero) Tbk. |
Pemilihan Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo sebagai lokasi YIA juga bukan tanpa alasan. Selain terkait masalah teknis, lokasi ini juga dinilai strategis bukan hanya sebagai pintu gerbang udara ke Yogyakarta, namun juga ke tujuan wisata utama di Jawa Tengah, yaitu Borobudur. Borobudur dikenal sebagai salah satu daerah prioritas pengembangan wisata nasional. Dengan adanya YIA yang didesain untuk menangkap lalu lintas penerbangan internasional secara langsung dari beberapa negara, diprediksi ada 20 juta penumpang yang melewati YIA setiap tahun dan berpotensi meningkatkan kunjungan ke Borobudur dan berbagai obyek wisata di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Saya terbangun dari lamunan umpatan teman saya. Saya tersenyum sejenak. Tidak dipungkiri memang jarak YIA ke pusat kota Yogyakarta memang cukup memakan waktu. Tapi pernahkah kita berfikir tentang dampak bangkitan yang ditimbulkan akibat pemilihan lokasi YIA ini terhadap Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Purworejo, dan banyak wilayah disekitarnya? Pariwisata bertumbuh, bisnis transportasi bertumbuh, perniagaan bertumbuh, perekonomian berputar bahkan sebelum bandara ini jadi. Saya menjadi saksi bagaimana YIA dalam 2 tahun ini mengubah kehidupan orang disekitarnya menjadi lebih baik. Saya menjadi saksi bagaimana pemerintah membangun Tanah Air melalui Kementrian Perhubungan. Terimaksih Kementrian Perhubungan (ig : @kemenhub151)
![]() |
| Pemandangan via Drone dari Barat ke Timur, Bulan Juni 2019. (doc. PPKSO) |
![]() |
| Pemandangan via Drone dari Timur ke Barat, Bulan Juni 2019. (doc. PPKSO) |
![]() |
| Sempat mengajak Papa, Mama, dan Istri ke Proyek sendiri bulan Juni 2019, mudik lebaran. |
Tulisan ini diikutsertakan dalam 2019 Blogger Writing Competition
Website kemenhub: http://dephub.go.id
Sosial media:
Twitter: https://twitter.com/kemenhub151
Facebook: https://www.facebook.com/kemenhub151
Instagram: https://instagram.com/kemenhub151






